ogoh-ogoh masa kini

Posted on March 16, 2010

3


no.30Agus dan Nyoman sedang menempelkan kertas pembungkus buku yg dipotong kecil-kecil berbentuk persegi di bagian bahu ogoh-ogoh, Nonik mengukir stereofoam ato yg akrab disebut gabus, berukuran 50x50cm dengan cutter kecil, dia sedang membuat topeng utntuk ogoh2, Yudik duduk agak jauh, sambil menghisap rokok, sesekali memicingkan mata melihat kira-kira ada yg perlu diperbaiki. empat pemuda itu sedang membuat ogoh-ogoh, sebuah patung berwujud raksasa berukuran besar, diarak keliling desa pada saat pangerupukan, sehari sebelum Nyepi. ogoh-ogoh terbuat dari rangkaian kayu dan jalinan bambu/rotan, dilapisi spons atau kertas, dan kemudian di cat. “kali ini kami membuat ogoh-ogoh untuk ikut berpartisipasi dalam lomba ogoh-ogoh yang diselenggarakan oleh pemkot denpasar” jelas Yudik,” kami masih membuat secara tradisional, rangka kayu dengan ulat-ulatan (anyaman), hanya tangan dan topengnya yg pake gabus” lanjutnya lagi. ya, kebanyakan sekarang ogoh-ogoh dibuat dengan gabus, seperti membuat patung.

Untuk lomba kali ini pemkot memberikan dana 3,5 juta/ karang taruna, “biasanya sih kami perlu lebih dari itu, tahun lalu aja perlu hampir 5 juta” ungkap Yudik. dana itu digunakan untuk membeli kayu sebagai rangka, bahan anyaman untuk membentuk badan, kertas, lem, gabus, atau membayar seniman untuk membuatkan topengnya, bambu untuk mengarak ogoh-ogoh, dan hiasan2nya. setelah jadi, pada malam pengerupukan ogoh-ogoh2 itu akan diarak keliling desa, biasanya jg menjadi ajang pamer kreatifitas dan juga keakraban dengan pemuda-pemudi banjar sebelah. kemudian ditempat yg disepakati, semua ogoh2 dari banjar-banjar yg ada di desa itu bertemu, kemudia saling beraksi, diiringi gamelan baleganjur yg dinamis, membakar semangat para pemuda utk mengarak, menggoyang,mengguncang ogoh-ogoh masing-masing, yang kuat akan kembali ke banjarnya dengan utuh, yg konstruksinya lemah, kembali dengan bagian tak lengkap atau bentuk yg berubah, setelah itu, ogoh-ogoh akan dibakar, dipralina– kembali menjadi abu
Pemborosan? tergantung dilihat dari kacamata apa, tapi aku lebih suka melihat dari dampak lingkungannya, ketika ogoh-ogoh sekarang sudah mulai bergeser, berbahan gabus yg tentunya tidak ramah lingkungan, melihat Nonik yg hanya membuat topengnya saja sudah menghasilkan sampah yg menggunung, bagaimana kalau kamu membuat ogoh-ogoh setinggi 2 meter berbahan gabus? berapa banyak sampah yg akan dihasilkan? akan dibawa kemana sampah-sampah itu? dibakar? asap hitam akan segera membumbung ke angkasa. ditanam? yeah..hingga cucu kita buat ogoh-ogoh, sampah itu masih disana.
lestarikan warisan budaya dari leluhur kita, dan sisakan juga untuk generasi berikutnya, berikutnya, dan berikutnya🙂
Posted in: humaniora