ayunan merah

Posted on March 10, 2010

3


Aku sedang menikmati hembusan semilir angin dan bias-bias air dari pancuran di lapangan rumput yang sering disebut taman kota, di depan patung yg penuh semangat dan teguh bersiap melempar tombak mengobarkan semangat. Aku sendirian melihat pedagang lumpia, balon, dan mainan lalulalang di tengah lapangan, beberapa kelompok pecatur khusyuk meratap bidak2 catur mereka dan menyusun langkah dalam pikiran. aku sendiri sedang menunggu waktu, kenapa waktu yg aku tunggu? karena semua mungkin sedang sibuk dengan waktu masing2, aku tak ingin mengganggu mereka, mungkin juga mereka tak ingin diganggu oleh aku. Kukeluarkan ponselku, kuketik pesan singkat, menawarkanmu utk ikut berbengong ria disini, yang ternyata 30 menit kemudian kau benar2 datang, kau datang sendiri, datang dari rumah saudara,katamu.
“Aku fotoin ya”, katamu ketika kita menjelajah bangunan tua di dekat lapangan
“Ngga ah, takut…lensanya gede”, Yg sebenernya aku lebih takut tidak bisa berbuat bodoh karena melihat senyummu.
Kau tersenyum menahan tawa ketika melihat aku takut naik ke bale kulkul itu, ato apalah namanya, yg pasti tempatnya tinggi dengan tangga yg curam,sayangnya tanpa pegangan tangga, aku phobia ketinggian, kata aku sampai diatas, “kenapa ikut naik” tanyamu, “pengen motret dari atas. hehe”
Aku masih ingat antusiasmu melihat VW kodok berwarna merah menyala itu, langsung kau bidikkan kamera mu yg besar dan lensanya yg juga tampak lebar ke arah kodok raksasa itu, hasilnya, menakjubkan. Kita berdua senang bukan kepalang melihat ayunan yg kosong, langsung kita sambar sebelum ibu2 muda dengan anaknya yg baru saja pulang dari taman kanak-kanak datang dan memonopoli sepanjang hari, dibawah pohon berdaun rimbun, aku memandang ke atas, melihat sinar matahari berusaha menyelinap hingga ke tanah, kita berayun2 pelan, mengikuti semilir angin, sambil membicarakan cara2 menodong kawan yang baru jadian. Kita masih berayun2, sesekali tertawa, melihat wajahmu yg sering bertampang bodoh, dan aku seringkali kagum, dengan isi otak secerdas itu, kau bisa bertampang bodoh, dan berbuat yg bodoh pula. kau memegang ayunan tepat di samping wajahmu, sehingga bisa memamerkan kuku mu yg baru saja kau cat dengan warna merah
Aku menyukai saat itu,  karena seorang kawan menemani, mengisi waktu yang kosong,
Terimakasih sudah menemani aku menunggu waktu, mengelilingi lapangan itu, hingga kita hampir hapal setiap pohon disana, menemani menjelajah bangunan tua yg hampir lapuk, belajar foto disana, ato menambah koleksi foto narsis di facebook!? ^^

Posted in: humaniora