seni Prasi

Posted on October 28, 2008

2


lontar yg sudah digores, tinggal digosok kemiri untuk mempertegas garis

lontar yg sudah digores, tinggal digosok kemiri untuk mempertegas garis

“Uuaaahmmm…” sekali lgi aku menguap…sudah ntah menguap yang keberapa, mataku mulai sepet, paser di tangan kananku juga mulai terasa berat, goresan2 di lontar itu sudah mulai tidak rata, waktu jg mendekati pergantian hari,”prasi ini harus jadi skrng!” begitu tekadku.

Wah..sebenernya aku buat ap sih??kok tengah malem bawa-bawa paser,lontar dan begitu bersemangat??! Baiklah, kali ini aku sedang dikejar oleh tugas Ilustrasi Tradisi, dari namanya ud kelihatan, ilustrasi-berasal dari kata ilustrare yg berarti sinar terang,mulia gemilang à ilustro yang berarti juga ‘menghias, menerangi, menunjukkan.” Jadi bisa disimpulkan ilustrasi adalah “sesuatu yang dapat menghias,menerangkan, menunjukkan melalui media tertentu”, (sesuai catatan Ilustrasi I ). Tradisi – sesuatu kebiasaan turun temurun. Seperti menghidupkan kembali roh leluhur!hehehe. Tugasnya kali ini melukis lontar, atau yg akrab disebut “seni prasi” atau “kumik prasi”,

Untuk mengetahui lebih jauh, dan lebih riil dan juga karena tuntutan dosen yg menyarankan untuk melakukan survey,alhasil aku dan teman2pun segera meluncur ke salah satu desa di bilangan wilaya Kab. Karangasem, tepatnya di desa Wanasari, Kecamatan Sidemen. Di sana kami langsung bertemu salah satu ‘komunitas’ pembuat Prasi.

Jadi, apa sih Prasi ato Kumik tu!!??

prasi yang menggambarkan penanggalan/wuku

prasi yang menggambarkan penanggalan/wuku

Oia..sabar,brur!sabar!sekarang nih! Seni Prasi /Komik/kumik adalah seni menggambar dengan media daun lontar. Proses dan teknik pembuatannya unik bgt! Oleh karena itulah, seni Prasi sebagai salah satu kekayaan budaya yang tak ternilai. Gambar wayang klasik dalam lontar prasi itu dihasilkan dari teknik menggores sehingga disebut ‘scratched illustration”. Alat yg digunakan untuk menggambar/menulis diatas daun lontar disebut pengutik/pengerupak yakni sejenis pisau kecil yang khusus dibuat dari besi baja. Pada bagian ujungnya yang runcing berbentuk segitiga dengan maksud bisa membuat goresan yang tebal maupun tipis.. agar gambar/tulisan di lontar tersebut bisa dibaca, proses pembuatan prasi diakhiri dengan menggosokkan isi buah kemiri yang dibakar jadi arang (mangsi) yang dicampur dengan sedikit minyak kelapa. Cerita yang biasanya digambar oleh para perajin Prasi antara lain Ramayana, Mahabratha, Penanggalan dalam Bali (wuku).

Dari hasil ngobrol2 dengan ibu dayu, narasumber kami, carapembuatan Lontar (media gambarnya) adalah:

1. Daun rontal dipotong sesuai bentuk, kemudian direbus selama kurang lebih 2-5jam.

2. Agar lontar bisa awet, tidak dimakan rayap, pada saat perebusan diisi pengewet tradisional yg terbuat dari akar pohon kelapa, garam, dan sindrong.

3. Kemudian dijemur hingga kering, setelah kering, daun lontar di press, diwarnai dengan cat semprot, didiamkan selama 3 hari, lalu dibuat lubang di pinggir kanan, kiri, dan tengah, dengan alat pelubangnya dan kemudian siap digambar.

Sedangkan proses pembuatan Prasi adalah sbb:

1. Lontar yang telah jadi, digambar dengan cara menoreh menggunakan pengerupak.

2. Setelah proses penggambaran selesai, dilanjutkan dengan proses kemiri, sebelumnya kemiri dibakar dan jangan terlalu kering, karena kemiri akan menjadi keras. Kemiri yang telah dibakar kemudian digosokkan pada lontar secara merata.

3. Kemudian, lontar yag sudah hitam dengan kemiri dibersihkan dengan kain lap bersih.

4. Lalu setelah pengerjaan selesai satu takep, lontar beserta takepannya digabungkan menggunakan benang kasur.

Baiklah, kira2 spti itulah proses pembuatan prasi. Itu alasan aku megang2 paser, seharusnya sih pengerupak..hihhi,jgn bilang2 pada dosen saia y..hehehe

Jadi, seni prasi merupakan salah satu warisan yg adiluhung dari nenek moyang kita. Dulu sering digunakan sebagai saran upacara dan benda kesusastraan, dan kini jadi benda cinderamata. Dan…sebagai generasi muda Bali khususnya, sudah sepatutnya kita mengenal budaya kita sendiri, memahaminya, sehingga nantinya kita bisa mengembangkan dan melestarikannya.

Uaahmmmmmm…….ugh…kepala semakin berat..otak perlu suplai oksigen…mungkin sebaiknya aku istirahat dlu, setelah bangun nanti, kita lanjutkan perjuangan menjaga kesenian tradisi.

alat untuk menggambar diatas lontar

alat untuk menggambar diatas lontar

Posted in: desain grafis, DKV